Dibalik 8 Sahabat Introvert: Part II

Love

Semangat Adek

Semester baru dengan semangat yang baru. Lisa dan teman – teman sudah menyiapkan target-target yang harus dicapai dengan strategi yang sesuai. Pengalaman dua semester dijadikan guru untuk kedepannya.

“Tak semua orang mesti dipercaya”
“Tak semua orang berniat tulus berteman”
“Jangan terlalu memaksakan diri untuk orang lain jika tak terlalu menerimamu”
“Tidak akan ada kecurangan yang picik jika someone menganggapmu teman”

Beberapa moto mereka yang perlu diingat satu semester kedepan. Bagaimana tidak, banyak sekali para penjilat yang melontarkan mulut manisnya di depan mata. Tapi menjadi ular saat dibelakang. Mereka yang dianggap teman tapi hanya sebagai selir dalam pertemana. So karena terlalu polos maka mudah percaya akan buaian bulshiit.

“Kalian kapan sampai?” Tanya salah satu mahasiswa dengan wajah imut
“Baru dua hari yang lewat”

Percakapan basa-basi mahasiswa sebelum memulai perkuliahan. Basa-basi ini merupakan hal positif antara mahasiswa karena berani menjalain komunikasi. Karena tidak semua mahasiswa yang mau melakukan hal-hal seperti ini. Bahkan ada diantara mereka yang hanya melakukan komunikasi sesama anggota genknya saja. Terlalu ke kanak-kanakan bukan? Tapi semua orang punya sifat dan cara berfikir yang berbeda juga.

Perkuliahan usai Lisa dan teman – teman memilih beristirahat di tempat favorit mereka yaitu di bawah pohon sawit yang terletak di pinggiran jalan menuju gerbang kampus. Mereka lebih memilih tempat yang sederhana karean bisa leluasa dan menjadi apa adanya. Bodoamat sama pandangan orang lain.

“Eh kalian mau makan apa?” Tanya pepi
“Sepertinya somai Pak Wa lebih menggoda” jawaban ajakan mona dengan mengedip-ngedipkan matanya kepada Pepi.
“E aku gak bisa makan somai, dah gatal – gatal” rengut Izza dengan logat khasnya
“Sepertinya rujak lebih nikmat” goda Bulek
“Oalah.. jadi kita beli apa?” ringkas Riska
“Aku gak beli ya, ada bawa makanan, gak suka juga itu” ketus adek dengan alasan percincongannya.
Sepuluh menit berlalu pembahasan mereka tak kunjung usai.
“Cipat ee” desak Pepi untuk menyuruh memutuskan mau beli makanan apa
“Yaudah sini uang, minta pulpen sama kerta biar dibeli” tangkas Lisa

Dan pada akhirnya :

    Somai gak pake cabe 1 5k
    Somai gak pake kuah 1 5k
    Somai Cuma pake cabe 1 5k
    Nasi pake ikan 1
    Aqua sedang 2 buah

“udah kutulis ni ya, yang mau beli rujak baren bulek. Aku sama Pepi beli yang ini, yang lain shalat dulu” jelas Lisa sembari menaiki motor si Pepi.

Lima belas berlalu mereka tak kunjung datang. Kejenuhan pun datang bagi mereka yang menunggu. Celotekan demi colotekan pun terkeluarkan

“E kok lama ya Lisa”
“Namanya Lisa selalu lama”
“Lagi antrian di somai lah tu, kan rame”
“iyaa”
“dah lah dah lah, udah telat ni wkwk”

Biip..bipp..bipp notif grub chatt mereka. Siapa lagi kalau bukan dari satu-satunya cowo yang berada diantara mereka. Dia adalah Abdullah. Laki-laki tinggi yang cool anti tipu-tipu club. Seperti biasa dia minta tolong kabari kalau dosen sudah masuk kelas.

Makanan yang ditunggu-tunggu pun datang. Merekapun makan dengan santai hingga lupa jam perkuliahan hampir mendekat. Sesekali Mona dan Pepi mantauin grup chatt melihat info perkuliahan dari komting atau langsung dari dosen dan mengingatkan mereka untuk bergegas karena perkuliahan akan dimulai.

Info dosen tidak masuk kuliah sebenarnya menyedihkan namun menyenangkan untuk kondisi yang kepepet. Begitulah yang mereka rasakan saat itu.

Mereka memilih untuk tidak pulang dulu dan pergi kemushola untuk shalat bagi yang belum shalat. Tanpa disadari sudah menunjukkan pukul 15:30 WIB. Selama itu mereka habiskan untuk curhat-curhat club. Jadi adek tipe orang yang gak mau terbuka kepada siapapun. Dia juga selalu dikucilkan untuk perkuliahan terutama pemilihan kelompok presentasi.

Dia menceritakan kekagumana dari masing-masing temannnya. Mulai dari Lisa yang dia anggap pemberani, Mona yang dianggap pintar, sedangkan Pepi, Bulek, dan Riska yang rendah hati. Dia merasa gak ada yang tulus mau berteman, dia merasa sulit diterima di kalangan mahasiswa.

Semakin lama pembicaraan mereka semakin sunyi dan mengharukan. Dari pembicaraan itu membuat mereka lebih mengenal dan lebih dekat lagi.

“Adek sebenarnya kamu itu pintar, kamu gak perlu minder” Pinta Lisa
“Bener tu Adek, gausah takut lagi. Karena ada kita “ jelas Mona
“Dek coba deh, lebih berani. Adek harus berlatih lagi ngomong supaya vocalnya jelas”
“Adek harus buktikan kalau adek bukan orang yang pantas untuk dikucilkan”
“Aku gatau harus bilang apa, tapi yang pasti semangat aja” keluh Pepi
“Yok Pulang ee, dah ngantuk aku” ganggu Lisa

Lisa bukan gak peduli sih, tapi keunikan dia itulah yang membuat mereka selalu nyaman. Meskipun terkadang dia sering menyela untuk hal yang tidak berkaitan wkwk.

Motivasi dan kata-kata semangat saling menguatkan itu membangkitkan jiwa mereka untuk pulang. Perhatian dan kepedulian saling mengisi membuat hubungan pertemanan mereka semakin kuat. Dengan langkah lesu dan mata yang memerah dan senyuman keikhlasan mereka meninggalkan muhsola itu.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url