Dibalik 8 Sahabat Introvert: Part I
#1 Lisa
Lisa yang Berubah
Bipp… bipp… bipp tanda notifikasi grub whattshap pagi itu. Tepat pukul 09:40 WIB jantung Mona meronta melihat notif grub yang sudah banyak dan yang pasti dia sudah ketinggalan perkuliahan. Bergerak cepat mengambil jilbab dan join video meeting.
“variabel dummy itu adalah …” ucap laki – laki di video itu terputus.
“Sial perkuliahan sudah mau habis dan aku baru join”
“iss ayolaah jaringan”
“iss menyebalkan” Gerutu Mona mengarah ke layar handphone-nya
Sekitar
10 menit berlalu perkuliahan pun usai. Mona pun merasa bodoh atas
kebodohannya. Dia dengan kepanikan ngecek kawan - kawan sekelas dan
ternyata bernasip sama. Bahkan ada diantara mereka yang gak sempat untuk
join. Hari kamis salah satu hari yang melelahkan bagi dia, karena full
perkuliahan dan biasanya ada bumbu – bumbu tugas setiap harinya.
“kon..”
“kon kita masuk ya?” dengan polosnya Pepi bertanya
“iya kon” jawab Mona dengan penuh kesedihan
“kok kalian gak ngabari?” Tanya Izza
“Aku juga telat e” balas Adek
Percakapan mereka terus berlanjut dari curhat – curhatan kekesalan pengumuman masuk kelas yang tiba – tiba. Diantara mereka yang sempat masuk kelas hanya Mona dengan durasi kurang lebih 10 menit, Adek durasi 30 Menit dan Lisa yang mengikuti lumayan lama. Lisa yang ratu tidur pun bisa ikut perkuliahan tanpa cuci muka curhatnya. Bagaimana tidak dia yang membantu dosen membantu jalannya perkuliahan.
Lisa perempuan yang bersemangat itu selalu ingin menunjukkan kebolehannya. Bukan karena caper tapi karena dia memang mampu dan pintar. Meskipun kadang dia dibodohi dengan kepintarannya.
Aku udah siap, kalian udah?” Tanya Lisa
“Kami lagi nyari, kek mana ee?” Jawab si Bulek dengan gaya khasnya
“Udah ku bilang jangan pake ee “ Si pepi dengan kebiasaannya. Logat yang khas dari mereka memberikan warna di pertemanan mereka.
Kala itu mereka masih di semester dua yang disibukkan dengan beberapa tugas. Beberapa tugas mereka kerjakan dengan penuh semnagat dan perjuangan. Lisa selalu menanyakan kawan – kawan yang belum mengerjakan tugas. Dia juga gak pelit untuk berbagi ke kelas lainnya. Dia juga termasuk yang aktif dengan perkuliahan, dan cermat dalam mengerjakan ujian. Salah satu mata kuliah yang diikuti pada semester itu adalah Sejarah Perekonomian. Mata kuliah yang sebenarnya santai dengan dosen yang bersahabat.
Tiba masa Ujian Akhir Semester semua mata kuliah sudah dipersiapakan dengan baik dengan penuh ketekunan. Mahasiswa disibukkan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Kepanikan mulai menyerang untuk mata kuliah yang belum dikuasai.
Berbeda dengan mata kuliah yang satu ini, persiapan yang tidak banyak. Datang dengan senyuman serta duduk manis dalam pengerjaan.
“Assalamualaikum” dengan langkah pelan bapak itu menuju kursinya dengan beberapa bawaan. tangan kiri berisi map kuning yang biasa berisi soal ujian dan lembar jawaban, dan tangan kanan berisi tas hitam yang biasa berisi laptop sang bapak.
Mahasiswa menjawab serempak dengan berbagai perasaan. Ada yang diam tanpa beban, ada harap-harap cemas, ada yang senyum-senyum tanpa sebab, ada yang memperbaiki posisi duduk, ada yang melihat-lihat posisi pojok yang kosong untuk bisa diduduki.
Sang bapak berdiri dengan tanda akan membagikan soal ujian seiring dengan semakin sunyinya mahasiswa di dalam ruangan. Satu per satu mahasiwa mendapat soal dan lembaran jawaban. Dengan begitu satu persatu pula mahasiswa mulai mengerenyutkan dahi.
Satu-satu dari mereka mulai menghela napas panjang akan ketidaktauannya. Kecuali Mona yang sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Dan semua pertanyaan dari soal tersebut tanpa disangka sudah pernah Mona baca diwaktu senggang. Tapi tidak dengan mahasiswa lain termasuk Lisa, Lisa ada sedikit ketakutan akan ujiannya. Dia tidak membaca materi dan merasa ujiannya hari ini akan dipermudah. Disaat seperti ini lisa menggunakan kepintaran mendongengnya. Dia mencoba menjawab soal dengan analisa yang dia punya.
Tanpa berpikir panjang Lisa juga menjadi orang pertama yang mengumpulkan lembaran jawaban UAS kemudian diikuti dengan Mona. Setiap yang mengumpulkan akan diberi tanda nomor urut. Mereka juga gak tau untuk apa fungsinya.
Ujian usai dan mereka semua merasa lega telah menyelesaikan satu semester dan mempersiapkan diri untuk liburan.
Perpisahan manja dan kelebayan terjadi diantara mereka. Karena dua diantara merek akan meninggalkan tanah rencong. Dua perempuan Biuren akan disibukkan dengan banyak pekerjaan karena mereka perempuan tangguh dalam keluarga. Satu – satunya laki – laki dinatara mereka juga akan disbukkan dengan kegiatan pesantrennya. Sedangkan tiga orang lagi Lisa, Adek dan Izza anak rumahan dengan berbagai kegiatan. Adek dan Izza anak yang patuh dan taat pada orangtua pasti akan mengerjakan berbagai hal. Sedangkan Lisa akan kembali dengan rutinitasnya mengadu taring dengan kebandelan anak didiknya. Yah, Lisa adalah perempuan guru les di kompleknya. Saat itu ada satu perempuan yang juga cantik sebagai penduduk asli kota itu. Dia juga merasa sedih akan perpisahan yang terjadi. Bagaimana tidak, dengan kegiatan dirumah saja akan menggagalkan program diet yang sudah dia bangun.
Setelah perpisahan terjadi grup chatt mereka nampak sepi seperti kuburan. Sebenarnya untuk sekedar menyapa bisa dilakukan. Tapi dengan berbagai macam kesibukan mereka tidak slaing berbagi kabar. Hingga saatnya pengumuman nilai dan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) baru mereka saling berbkabar.
Harapan mahasiswa tentunya mendapatkan nilai yang memuaskan dengan IPK yang tinggi begitu juga dengan mereka. Namun, hal yang buruk terjadi pada Lisa dan Izza. Untuk satu MK yang seharusnya mendapatkan nilai sempurna, tapi malah mendapatkan nilai tidak baik. Tentunya ini sangat berat bagi Lisa. Mengingat keaktifan saat belajar, mengerjakan tugas dan usaha yang dilakukan. Mungkin karena kelalaian saat menghadapi UAS yang membuat nilainya seperti itu.
“Biip…Biipp…Biip” notifikasi grub angkatan mereka yang ricuh masalah nilai setelah UAS. Mereka heboh dan sibuk menanyakan nilai yang satu dengan yang lain.
“Ke dapat apa”
“C”
“Ke?”
“C”
Isi pecakapan grup chatt mereka satu angkatan yang mempertanyakan persoalan nilai dengan bahasa gaul ala mereka di tanah rencong. Mereka ber api-api mengetahui nilai yang diperoleh. Bagaimana tidak, hampir satu angkatan mendapatakan nilai C. Hanya untuk beberapa orang yang memiliki keberuntungan yang mendapatkan nilai sempurna.
Tidak ada yang
mengerti alasan semua ini terjadi, hanya ada satu pemahaman yaitu dosen
akan memberikan dua jenis nilai yaitu A dan C. Nilai A bagi mereka yang
bisa dan benar menjawab pertanyaan disaat ada kesempatan dan Nilai C
bagi mereka yang tidak memenuhi ketentuan dari dosen tersebut. Metode
ini biasanya digunakan dosen senior, karena biasanya perjuangan mereka
untuk mendapatkan nilai dimasanya juga sulit. Hingga membuat dia juga
ingin melatih mahasiswanya untuk berjuang seperti dia.
Nilai-nilai yang mengejutkan membuat mahasiswa merenung termasuk Lisa. Lisa sangat sedih akan kondisi ini. Tapi dia tak pernah secara langsung menunjukkan air matanya atau kesedihannya. Teman--teman dia ikut merasakan kesedihan, tapi tidak ada yang berani bertanya satu sama lain sampai waktunya mereka benar-benar sudah lega. Hingga saat itu Lisa berjuang dan tak ingin pengalamannya terulang kembali di semester berikutnya. Dan itulah yang membuat Lisa gak mau main-main semester ini.

Wkwkwk kayak flashback gitu😅 but thanks sobat sukses terus ❤️
waah masya allah, makasi sobatku :D